Polisi Tegaskan Penambang di Basaan Ratatotok Tewas Akibat Sajam, Isu Penembakan Hanya Hoaks

JEJAKSULUT.COM, MINAHASATENGGARA – Pihak kepolisian bergerak cepat meredam isu liar yang beredar di tengah masyarakat terkait tewasnya Hofni Pondaag (47), seorang penambang dalam ketegangan yang terjadi di Desa Basaan, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Sulawesi Utara, pada Rabu (23/9/2026) malam.

Hofni Pondaag penambang asal Esandom, Kecamatan Tombatu Timur, Kabupaten Mitra.

Korban dihadang oleh sejumlah orang tidak dikenal di jalan raya Desa Basaan saat hendak menempuh perjalanan pulang dari lokasi tambang.

Sesaat setelah insiden tersebut, sempat beredar kabar burung di media sosial bahwa terdengar letusan senjata api di tempat kejadian perkara (TKP).

Namun, spekulasi tersebut langsung dipatahkan setelah kepolisian melakukan langkah hukum forensik.

Kapolsek Ratatotok, Ipda Rizky Syaifudin Zuhri, secara tegas membantah rumor adanya suara tembakan atau penggunaan senjata api rakitan dalam peristiwa berdarah tersebut.

Berdasarkan hasil penyelidikan resmi, korban murni meninggal akibat luka fatal dari senjata tajam (sajam).

“Ini murni terkait kasus penganiayaan berat dengan menggunakan sajam,” ujar Ipda Rizky Syaifudin Zuhri saat memberikan keterangan tertulis kepada media, Kamis (24/9/2026).

Ipda Zuhri menjelaskan bahwa kepastian penyebab kematian didapatkan setelah jenazah korban menjalani pemeriksaan forensik dan otopsi medis yang mendalam.

Hasil otopsi membuktikan bahwa seluruh luka pada tubuh korban bersumber dari hantaman sajam, bukan peluru.

“Masalah penembakan itu tidak ada. Itu cuma penggiringan opini yang sengaja digoreng oleh sejumlah pihak. Kami pastikan tidak ada senjata rakitan, tidak ada semua itu,” tegas Kapolsek Ratatotok.

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) masih melakukan pengembangan intensif di lapangan semua yang terlibat.

Terkait motif di balik penganiayaan berat ini, pihak kepolisian menyatakan belum bisa berspekulasi.

Penyidik masih mengumpulkan keterangan saksi serta menyusun Berita Acara Pemeriksaan (BAP) untuk memastikan apakah peristiwa ini dipicu oleh salah paham, pengaruh minuman keras, atau ada faktor lain yang melatarbelakanginya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *