JEJAKSULUT.COM, JAKARTA – Sebagai penyelenggara Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan terus berkomitmen untuk menghadirkan akses layanan JKN yang mudah dijangkau oleh seluruh penduduk Indonesia, di manapun mereka berada.
Demi mengatasi keterbatasan akses di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), BPJS Kesehatan resmi meluncurkan program Layanan Ujung Negeri (LANURI).
Peluncuran ini dilakukan secara serentak di 558 titik kabupaten/kota di seluruh Indonesia dengan melibatkan 126 Kantor Cabang BPJS Kesehatan, bertepatan dengan acara Launching LANURI dan Closing Quick Wins 100 Hari Kerja Direksi, Senin (13/07/2026).
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, yang didampingi oleh Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan, Akmal Budi Yulianto, menjelaskan bahwa LANURI merupakan wujud nyata implementasi dari salah satu program Quick Wins 100 Hari Kerja Direksi BPJS Kesehatan.
“Hari ini kita laksanakan LANURI serentak. Dari 558 titik tersebut, sebanyak 179 titik menyediakan layanan BPJS Keliling, sementara di 379 titik lainnya menghadirkan layanan VIOLA.
Harapan kami, LANURI dapat memudahkan akses layanan JKN bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil atau aksesnya terbatas karena kondisi geografis,” ujar Pujo.

Kolaborasi Teknologi Digital dan Layanan Jemput Bola
Dalam program LANURI ini, BPJS Kesehatan mengombinasikan dua strategi utama untuk menyiasati tantangan geografis dan infrastruktur:
1. VIOLA (Virtual Office Layanan Informasi dan Administrasi) Kanal layanan tanpa tatap muka berbasis video conference yang menghubungkan masyarakat di daerah 3T dengan petugas BPJS Kesehatan secara real-time.
Melalui VIOLA, warga dapat mengurus administrasi kepesertaan JKN, mencari informasi, hingga menyampaikan pengaduan.
Capaian: Selama Januari–Mei 2026, tercatat ada 218.729 pemanfaatan VIOLA, dengan lokasi pelaksanaan terbanyak di Puskesmas.
Tren Layanan: Layanan yang paling banyak diakses adalah informasi dan perubahan data Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), dengan mayoritas pengguna berasal dari segmen peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK).
2. BPJS Keliling – Layanan jemput bola ini dioptimalkan untuk wilayah yang belum mampu mengadopsi teknologi digital sepenuhnya akibat keterbatasan jaringan komunikasi data (jarkomdat), kondisi geografis, maupun faktor literasi digital masyarakat.
Melalui BPJS Keliling, masyarakat tetap bisa mengakses informasi, mengurus administrasi, dan menyampaikan aduan seputar JKN secara langsung.
Rapor Merah Putih: Capaian Quick Wins Tembus 91,53%
Pada kesempatan yang sama, Pujo memaparkan bahwa capaian Quick Wins 100 Hari Kerja Direksi BPJS Kesehatan telah menyentuh angka 91,53%.
Program strategis ini dibagi menjadi dua fokus utama:
Program Customer Centric: Dikembangkan khusus untuk mengakomodir kebutuhan fundamental peserta JKN berdasarkan aspirasi masyarakat.
Program Collaborative: Dijalankan secara paralel guna memperluas jangkauan layanan terintegrasi dengan melibatkan sinergi lintas stakeholders.
Beberapa program utama yang berhasil dicapai antara lain program JKN 3T (kerja sama kapal bantu RS dan pengiriman nakes ke daerah 3T), P-Care MBG (pemantauan kesehatan petugas SPPG serta tumbuh kembang siswa penerima MBG), dan Eliminasi Inefisiensi (intelligence claim untuk pencegahan dan pendeteksian potensi fraud).
Dukungan Penuh Lintas Sektoral
Inisiatif inovatif ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Deputi Bidang Pengembangan Usaha Koperasi Kementerian Koperasi, Panel Barus, menilai LANURI sebagai terobosan yang mampu mendekatkan pelayanan kepada masyarakat yang minim akses transportasi dan infrastruktur.
“Kementerian Koperasi menyambut baik kolaborasi ini. Jaringan Koperasi Desa Merah Putih yang tersebar hingga tingkat desa dan kecamatan siap mendukung penuh dengan penyediaan akses internet demi kelancaran operasi VIOLA maupun BPJS Keliling,” tegas Panel Barus.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Pusat Kesehatan TNI, dr. Hadi Juanda, menyatakan kesiapan institusinya untuk ikut menjawab tantangan pemerataan layanan kesehatan di wilayah 3T melalui dukungan infrastruktur TNI.
“Jaringan pelayanan kesehatan TNI siap mendukung LANURI. Kami dapat memobilisasi personel kesehatan ke daerah terpencil, memanfaatkan faskes TNI sebagai titik layanan tambahan, mengoperasikan kapal rumah sakit untuk pulau terpencil, hingga mengerahkan sekitar 76.000 personel Babinsa di seluruh Indonesia,” pungkas dr. Hadi. (*)







