JEJAKSULUT.COM, SULUT – Komitmen jajaran pemasyarakatan dalam membentuk karakter warga binaan terus diperkuat melalui inovasi pembinaan berbasis spiritual.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Utara, Haposan Silalahi, meresmikan sekaligus membuka secara resmi Sekolah Alkitab Napiri Angkatan I di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Amurang, Rabu (24/6/2026).
Kegiatan strategis ini menjadi wujud nyata dari komitmen pemasyarakatan dalam memperkuat pembinaan kepribadian warga binaan melalui pendekatan kerohanian yang berkelanjutan dan mendalam.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Haposan Silalahi hadir didampingi oleh Roni Rumondor (Plt. Kepala Bidang Pembimbing Kemasyarakatan), Rio Rampengan (Plh. Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan).
Sinergi dan Apresiasi dari Berbagai Pihak.
Acara peresmian yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh jajaran pegawai Lapas Kelas III Amurang, tim pengajar Sekolah Alkitab Napiri, Pelayan Gereja Oikumene Lapas Kelas III Amurang, serta perwakilan dari Ormas Laskar Napiri Sulawesi Utara.
Dalam kesempatan tersebut, Pastor Evangelis Aldy Sanggali menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada jajaran pemasyarakatan.
Menurutnya, keterbukaan pihak Lapas dalam menyediakan ruang pembinaan rohani merupakan langkah krusial bagi proses pembentukan karakter dan pemulihan diri para warga binaan.
Pembinaan Kerohanian sebagai Pilar Utama Pemasyarakatan
Saat memberikan sambutan, Kakanwil Kemenkumham Sulut, Haposan Silalahi, menegaskan bahwa pembinaan kerohanian bukanlah sekadar program pelengkap, melainkan salah satu pilar paling penting dalam sistem pemasyarakatan.
“Keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari keterampilan teknis atau mandiri yang dimiliki warga binaan, tetapi juga dari perubahan sikap, karakter, dan nilai-nilai kehidupan yang tertanam erat selama mereka menjalani masa pembinaan di dalam Lapas,” tegas Haposan.
Mencetak Pribadi yang Siap Kembali ke Masyarakat
Melalui peresmian Sekolah Alkitab Napiri Angkatan I ini, sebanyak 20 orang warga binaan resmi memulai langkah mereka sebagai peserta didik.
Mereka akan mengikuti program pembelajaran terstruktur yang dirancang khusus untuk memperkuat pemahaman spiritual serta moralitas.
“Program ini diharapkan mampu menjadi sarana transformatif yang memberikan dampak positif jangka panjang bagi warga binaan,” harap Kakanwil Kemenkumham Sulut.
Dengan bekal spiritual yang kuat, para warga binaan diharapkan dapat mewujudkan tujuan inti dari pemasyarakatan: menjadi pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, dan benar-benar siap untuk kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat. (*)







