Gandeng Bapelkes Sulut, Dinkes Minahasa Gelar Pelatihan Penanganan Kusta dan Frambusia Bagi Tenaga Kesehatan, Bersertifikat Kemenkes

JEJAKSULUT.COM, MINAHASA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Minahasa bekerja sama dengan UPTD Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara sukses menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kusta dan Frambusia Bagi Pengelola Program Tingkat Puskesmas.

Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, pada 27 hingga 31 Juli 2026 di Manado Tateli Resort and Convention ini diikuti oleh 25 orang tenaga kesehatan dan resmi terakreditasi dengan sertifikat dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Pelatihan ini bersumber dari anggaran murni Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagai bentuk komitmen Pemkab Minahasa dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat dasar.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Minahasa dr. Olviane Ratu, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr. Maximilianus J. Umboh, mengutarakan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan ini hasil kerja sama dengan Bapelkes Sulut.

“Peserta yang diikutsertakan adalah para tenaga kesehatan pemegang program kusta dan frambusia dari seluruh puskesmas yang ada di Minahasa,” jelas dr. Maxi saat diwawancarai.

Ia menegaskan, melalui pelatihan ini para peserta diharapkan mampu menyerap pengetahuan mendalam mengenai tata laksana penanganan penderita kusta yang sesuai dengan prosedur kesehatan standar.

“Selain peningkatan kapasitas teknis, tujuan utamanya adalah menghapus stigma atau rasa takut petugas saat menangani penderita kusta. Dengan begitu, nakes bisa lebih percaya diri dalam memberikan pelayan medis kepada pasien,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bapelkes Sulut, Normalia Saludung, SKM., menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi ini sangat krusial mengingat kusta dan frambusia termasuk dalam kategori penyakit tropis terabaikan (Neglected Tropical Diseases) yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat hingga saat ini.

“Selain menimbulkan dampak fisik berupa kecacatan apabila tidak ditangani secara dini dan tepat, penyakit ini juga sering menimbulkan stigma dan diskriminasi yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya,” terang Normalia.

Oleh karena itu, keberhasilan program pencegahan dan pengendalian penyakit ini sangat bergantung pada kompetensi tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP), khususnya para pengelola program di Puskesmas.

Ia berharap para peserta dapat menjadi garda terdepan dalam menemukan kasus secara aktif, melakukan tata laksana sesuai standar, melaksanakan surveilans, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta membangun jejaring lintas program dan lintas sektor untuk memutus rantai penularan.

“Saya mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga semangat belajar, meningkatkan profesionalisme, menjunjung tinggi etika pelayanan, serta memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada keselamatan pasien, berkualitas, inklusif, dan bebas stigma,” tutup Kepala Bapelkes Sulut.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Minahasa dr. Olviane Ratu, Kepala Seksi Penyelenggaraan Pelatihan Bapelkes Sulut Michael R. C. Kalalo, S.Si., M.Kes., Sub Koordinator P2PM Dinkes Minahasa Josefa M. Patty, SKM., M.Kes., serta Wasor Kusta Kabupaten Minahasa Silvia Ngantung, Amd.Kep.

Hadir pula Pengendali Mutu Pelatihan Meiske Korua, SKM., M.Gz., jajaran pegawai Dinkes Minahasa, tim fasilitator/narasumber, serta panitia penyelenggara pelatihan. (*)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *