Kementerian UMKM Bersama Pemprov Sulut Tingkatkan Kapasitas Usaha Komoditas Atsiri Melalui Pemanfaatan Teknologi Produksi

JEJAKSULUT.COM, Manado – Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia, melalui Deputi Bidang Usaha Kecil, bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Utara, menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Pemanfaatan Teknologi Produksi bagi Usaha Skala Kecil Komoditas Atsiri di Sulawesi Utara”.

Acara yang berlangsung di Ballroom Hotel Luwansa, Manado ini bertujuan untuk mendorong hilirisasi produk atsiri dan Peningkatan Daya Saing Komoditas Atsiri di Sulawesi Utara, Rabu (17/9/2025).

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Deputi Bidang Usaha Kecil, Kementerian UMKM RI, Temmy Satya Permana.

Acara diikuti oleh 40 peserta dari berbagai kalangan, termasuk petani minyak atsiri, koperasi, asosiasi minyak atsiri, pemerintah daerah, dan industri pengguna atsiri.

Pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan laporan panitia oleh Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM, Dr. Ali, ST, M.Si.

Dalam laporannya, Ali menyoroti potensi besar komoditas atsiri di Sulawesi Utara, namun juga memaparkan sejumlah tantangan.

“Produk masih dijual dalam bentuk bahan mentah, akses teknologi dan produksi terbatas, kualitas produk belum memenuhi standar internasional, serta akses pembiayaan dan investasi produksi masih terbatas,” jelas Ali.

Ia menambahkan, tujuan kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi masalah, meningkatkan kapasitas UMKM, dan membuka ruang kolaborasi antara UMKM dengan lembaga pembiayaan dan calon investor.

“Melalui kegiatan ini, kita dapat bersama-sama menyusun rencana tindak lanjut untuk memperkuat komoditas atsiri di Sulut,” harapnya.

Sementara, Deputi Temmy Satya Permana mengapresiasi terlaksananya kegiatan ini, menurutnya, Hilirisasi dan Teknologi Jadi Kunci.

Satya Permana menegaskan kembali bahwa UMKM di Indonesia masih menghadapi kendala serius terkait teknologi dan pembiayaan.

Ia menyebutkan bahwa 93,9% UMKM masih menggunakan peralatan manual atau semi-manual, yang berdampak pada rendahnya produktivitas.

“Kendala utama UMKM adalah teknologi, modal, dan akses pembiayaan,” kata Satya Permana,”

Meskipun, kata dia, ekspor minyak atsiri Indonesia tinggi, banyak yang masih dijual mentah.

“Padahal, kita memiliki potensi besar untuk hilirisasi komoditas atsiri, seperti nilam, untuk industri farmasi dan kosmetik,” tambahnya.

Satya Permana berharap kegiatan ini dapat menghasilkan langkah-langkah konkret untuk memanfaatkan teknologi produksi dan akses pembiayaan yang tepat guna mendukung produksi minyak atsiri, demi kesejahteraan bersama.

“Dengan demikian, kegiatan Pemanfaatan Teknologi Produksi bagi Usaha Skala Kecil Komoditas Atsiri di Sulawesi Utara, saya nyatakan secara resmi dibuka,” pungkasnya.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber. Plh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Utara, Drs. Jahja Gultom, MAP, memaparkan peran pemerintah daerah dalam pengembangan UMKM komoditas atsiri.

Narasumber lainnya yang turut berkontribusi dalam diskusi adalah Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana; Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil, Dr. Ali, ST, M.Si; Peneliti Pusat Atsiri Universitas Syiah Kuala, Dr. Saefullah Muhammad, serta Ketua Kelompok Riset Botani Terapan, Dr. Aswandi, S.Hut, M.Si.

Acara ini diharapkan dapat menjadi momentum penting bagi pengembangan industri atsiri di Sulawesi Utara, mendorong UMKM lokal untuk lebih berdaya saing di pasar nasional maupun internasional. (Mjr)

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *