JEJAKSULUT.COM, Minahasa – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa melalui Dinas Perpustakaan sukses menggelar Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Literasi Inklusi Sosial.
Acara yang berlangsung selama dua hari, mulai Senin hingga Selasa (17-18 November 2025), ini dipusatkan di Gedung Layanan Perpustakaan Kabupaten Minahasa.
Kegiatan strategis ini bertujuan untuk menguatkan peran literasi sebagai motor penggerak peningkatan kualitas hidup dan pemberdayaan masyarakat di Minahasa.
Bimtek dibuka secara resmi oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Minahasa, Martina Dondokambey Lengkong, SE. Kehadiran Ketua PKK menegaskan komitmen pemerintah daerah dan dalam mendukung program literasi yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
“Yang tidak boleh kita lupakan adalah akses terhadap literasi harus bisa dinikmati semua orang, tanpa terkecuali, inilah semangat literasi berbasis inklusi sosial yang menghadirkan ruang keterbukaan, ramah, dan mendorong partisipasi masyarakat,” ujar Martina Lengkong dalam sambutannya.

Ketua TP PKK Minahasa berharap, Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada teori, namun juga menyajikan sesi tematik berupa praktik dan menjadi ruang kreatif bagi peserta untuk belajar, berbagi.
“Serta bisa mengembangkan keterampilan praktis yang dapat menunjang ekonomi kreatif,” ungkap Ketua TP PKK Minahasa.
Senada, Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Minahasa, Johnny Tendean, AP, MAP menekankan, Pengembangan Literasi Berbasis Inklusi Sosial merupakan sebuah pendekatan literasi yang menempatkan masyarakat sebagai pusat, serta memastikan bahwa setiap warga—tanpa memandang usia, ekonomi, latar budaya, maupun kondisi fisik—memiliki akses dan kesempatan yang setara untuk memperoleh pengetahuan.
Tendean menegaskan bahwa makna literasi kini telah meluas dan mendalam.
“Literasi bukan lagi hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan mengolah informasi untuk meningkatkan kualitas hidup,” ujarnya.
Menurutnya, Pendekatan ini sangat relevan di Minahasa, mengingat keberagaman masyarakat, kekayaan budaya, dan tuntutan perkembangan zaman yang semakin cepat.
Menurutnya, literasi inklusif hadir untuk menyiapkan masyarakat Minahasa agar mampu beradaptasi, berdaya, dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Pilar dan Tujuan Literasi Inklusif
Literasi berbasis inklusi sosial berorientasi pada beberapa pilar utama, yaitu:
* Akses yang setara bagi seluruh warga.
* Pemberdayaan masyarakat melalui pengetahuan.
* Partisipasi aktif dari seluruh kelompok sosial.
* Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sekolah, komunitas, dan dunia usaha.
* Penghargaan terhadap keberagaman budaya, bahasa, dan identitas lokal.
“Pendekatan ini memastikan bahwa literasi hadir untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan,” terang Tendean.
Sementera, kata dia, tujuan utama pengembangan Literasi Inklusif ini adalah
* Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengakses, memahami, dan memanfaatkan informasi.
* Memberdayakan kelompok masyarakat secara spesifik, termasuk petani, UMKM, ibu rumah tangga, pelajar, lansia, dan penyandang disabilitas.
* Mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM melalui literasi digital serta literasi kewirausahaan.
* Mengembangkan perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat (learning center).
* Menjadikan literasi sebagai modal sosial untuk memperkuat budaya Minahasa dan karakter generasi muda
Untuk itu, Tendean menekankan, pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor, dengan kerja sama yang solid antara Dinas Pendidikan, Dinas Perpustakaan, Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, Dinas Sosial, perguruan tinggi, komunitas pemuda.
“Hingga lembaga keagamaan seperti gereja, merupakan kunci untuk menyukseskan program literasi inklusif di Kabupaten Minahasa,” tutup Kepala Dinas Perpustakaan Minahasa. (*)







