Kisah Kokoh Korban Pembacokan di Minsel, Tangan Diamputasi Pelaku Buron Berbulan-bulan

 

JEJAKSULUT.COM, MINSEL – Riki Suwadji alias Kokoh tak pernah menyangka pertemanannya dengan Zefanya Tumiwa berujung petaka.

Pria yang menjadi korban pembacokan brutal di Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Sulawesi Utara itu kini harus menjalani hidup dengan satu tangan setelah tangan kirinya diamputasi.

Kejadian penganiayaan berat ini terjadi pada bulan September 2025, hingga saat ini pelaku belum ditangkap polisi.

Kokoh menceritakan dirinya mengenal pelaku dari seorang teman kerja. Hubungan keduanya bahkan terbilang sangat dekat.

“Awalnya dikenalkan teman kerja, lalu kami jadi berteman baik,” ujar Kokoh, Kamis 22 Mei 2026.

Beberapa waktu kemudian, Kokoh diajak bekerja memanen kelapa di wilayah Motoling. Saat itu mereka berempat tinggal bersama selama sekitar satu bulan.

“Kami makan bahkan di satu piring karena memang sudah dekat dan tidak ada masalah,” katanya.

Sebelum kejadian, pelaku meminta dibuatkan tato.

Malam itu, pelaku sempat menjemput pacar masing-masing dan membeli minuman beralkohol sebelum proses tato dilakukan.

“Saya buat tato di kaki dan kepala dia, tapi belum selesai karena saya sudah lelah dan bilang dilanjutkan besok,” ujarnya.

Setelah itu Kokoh bersama seorang rekannya tertidur.

Ia sempat terbangun dan melihat pelaku juga sudah tidur.

Namun, saat sadar kembali, dirinya sudah berada di Puskesmas Motoling dengan kondisi luka parah.

“Saya sudah tidak tahu bagaimana kejadiannya sampai sadar sudah di Puskesmas,” katanya.

Dari cerita warga dan rekannya, Kokoh diduga dianiaya menggunakan parang yang biasa dipakai memanjat kelapa.

Setelah dibacok, tubuhnya disebut sempat dibuang ke dalam selokan dan dikira telah meninggal dunia.

“Warga takut menolong saya dan menunggu polisi datang baru saya dievakuasi,” ujarnya.

Akibat penganiayaan itu, Kokoh mengalami luka berat di bagian kepala hingga lebih dari 100 jahitan.

Tangan kirinya juga dibacok tiga kali hingga akhirnya harus diamputasi.

“Saat tangan saya diamputasi saya langsung menangis,” katanya lirih.

Kasus tersebut kemudian dilaporkan kakeknya ke Polres Minahasa Selatan.

Namun, hingga kini pelaku belum berhasil ditangkap.

“Sudah dari September sampai sekarang belum ada titik terang,” ujarnya.

Kokoh mengaku sempat dihubungi polisi sekitar tiga bulan lalu untuk membantu mencari nomor pelaku agar bisa dilacak.

“Saya sempat berpikir, kalau begitu saya yang cari pelaku,” katanya.

Meski kehilangan tangan kiri yang selama ini menjadi tangan dominan, Kokoh kini tetap berusaha bekerja di tambang untuk melanjutkan hidup.

“Sulit memang karena tangan kiri saya yang paling kuat sebelum diamputasi,” ujarnya.

Ia berharap polisi segera menangkap pelaku agar kasus tersebut segera mendapatkan kepastian hukum.

“Kepada pelaku saya minta segera menyerahkan diri,” pungkasnya.

Kasat Reskrim Polres Minahasa Selatan, Iptu I Gede Indra, mengatakan pihaknya masih memburu pelaku yang diduga terus berpindah tempat untuk menghindari penangkapan.

“Pelaku masih buron, Resmob sementara pencarian. Tersangka berpindah-pindah saat ada informasi setelah di lidik tidak ada di tempat,” ucap singkat Kasat.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *